12/27/2008

Siapa Gerangan, Nyata Tapi Disangkali

Oleh:Hamus Rippin.
http://www.asiabersama.com/?id=musrippin

Cerita teman kerja saya yang pengakuannya dapat diyakini kebenarannya. Ia mengungkapkan pengalaman yang dialami sendiri, pada satu hari hal kejadiannya pada awal tahun enam puluhan pada jalan raya Makassar-Palopo yang takberpungsi pada saat itu, terjadi antara Cimpu dan Suli.

‘Satu ketika pada awal tahun enam puluh’ demikian ia memulai ceritanya. ‘saya tidak percaya, tetapi ini kenyataan yang dilihat oleh mata kepala saya sendiri, tetapi yang bersangkutan menyangkali kejadiannya. Maksud saya miliknya yang berharga –uangnya jatuh-, tetapi dia menyangkali.’ Teman saya ini kemudian meneruskan jalan kissanya.

‘Saat itu saya pulang sekolah dibawah sinar mata hari terik. Saya jalan sendirian diatas jalan raya yang hanya namanya jalan raya saja, tetapi sudah lama tidak berpungsi, tidak dapat dilalui oto karena rusak, sepedapun jarang melewati. Juga manusia jarang melawati jalanan ini, hanya sewaktu-waktu saja. Tetapi saya, setiap hari sekolah jalan sendirian diatas jalanan ini.

Saya jalan sendirian dibawah sinar mata hari terik, sebagai mana saya lakukan setiap hari sekolah pagi pergi, siang pulang. Ketika saya meliwati mesjid Buntusiapa, saya belum memperhatikan, tetapi setelah saya menghadapi kuburan, masih dari kejauhan saya lihat seorang laki-laki jalan sendirian pula. Ia menggunakan baju pitih, celana pendek dengan sarung yang diselempang pada bahu.

Dari jarak sekitar seratus meter mata saya persis memperhatian orang ini, sesuatu berbentuk secarik kertas terjatuh dari saku celananya, atau.... tapi jelas dari orang bersangkutan ini terjatuh sesuatu, ketika saya sampai ditempat ini, dan laki-laki dimaksud sudah lebih jauh lagi. Saya melihat ditempat, diatas jalanan terletak selebar uang kertas yang bernilai Rp 25,- nilai awal tahun enam puluh.'

Kalau menurut saya, mungkin uang Rp 25,- awal tahun enam puluh, nilainya sekitar Rp 250.000,- sekarang, malah mungkin lebih besar lagi nilainnya.

Kemudian ia meneruskan 'Saya pungut uang Rp 25,- dimaksud, kemudian saya lari-lari mengerjar orang dimaksud. Kepadanya saya berikan uangnya. Saya katakan uang dari Uwak jatuh, saya lihat sendiri jatuh dari sakunya.’

‘Eh, apa! Uang saya? Kau bilang uang saya? Saya tidak membawah uang, saya tidak punya uang.’ Laki-laki ini membantah.

‘Tapi saya lihat sendiri uwak, jatuh dari saku belakang uwak tadi.’

‘Aku sudah bilang tadi, anak. Uwak ini tidak punya uang dan tidak membawah uang.’

‘Uang ini saya lihat uwak jatuh dari kantong celana uak.’ Saya meyakinkan.

Diskusi antara laki-laki dan teman saya ini, menurut pengakuan teman saya ini terjadi sesaat.

‘Begini saja, anak. Kalau uang ini uang saya, ambil saja. Ambil uang ini, kau belikan pekakas sekolah. Mungkin bisa kau beli buku, pincil dan lain-lain. Jangan lagi bilang uang saya, mungkin uang dari malaikat yang jatuh dari langit untukmu.’ Laki-laki ini menutup kalimatnya. Kemudian menyimpang dari jalanan kearah kanan dan menghilang di telan semak-belukar.

‘Selanjutnya pada hari pasar berikutnya saya membelanjakan uang ini, dengan membeli perlengkapan sekolah, beberapa buku, pinsil dan lain-lain, serta sandal baru. Pokoknya sesuai dengan pesanan dari orang tua laki-laki menyangkali kenyataan. Menyangkali uangnya sendiri.’ Demikian cerita pendek yang dialami teman saya.*

Aramulabisnis.blogspot.com